Diceritakan ada seorang ayah, anak, dan seekor keledai. Suatu hari mereka hendak pergi ke sebuah tempat. Ketika di perjalanan, ayah dan anaknya itu menaiki keledainya, lalu orang-orang berkomentar "Jahat sekali ayah dan anak itu, mereka menaiki keledainya bersamaan."
Mengetahui hal itu, selanjutnya sang anak turun dari keledai dan sang ayah tetap menunggangi keledainya. Di perjalanan ada lagi yang berkomentar, "Dasar si ayahnya, masa dia menaiki keledai sementara anaknya jalan kaki!".
Ganti formasi lagi, giliran anaknya yang menaiki keledai dan ayahnya yang berjalan kaki. Lalu apakah orang-orang diam saja? Tidak kawan. Ada yang ngoceh lagi "Dasar anak tidak berbakti, masa dia naik keledai lalu ayahnya dibiarkan jalan kaki!"
Tak selesai sampai sana, selanjutnya ayah dan anak itu berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Masih saja ada yang berkomentar, "Dasar ayah anak bodoh, punya keledai kok ngga dinaiki."
Apa pelajaran yang bisa dipetik? Kalau menurut saya seperti judul tulisan ini, di paling atas, jangan terlalu mendengarkan perkataan orang lain. Karena memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang, pun tidak bisa juga membuat semua orang benci dengan kita.
Jangan terlalu dihiraukan apa kata orang lain. Selama tidak menyalahi aturan yang ada dan tidak merugikan orang lain, lanjutkan saja. Karena seringkali orang lain hanya pandai menghadirkan masalah, tanpa memberi solusi. Stay bomat dan cuek.
-
Itu setidaknya materi yang masih saya ingat dari pertemuan perdana kami dengan Kak Zainuri (jaket merah), tentunya dengan diksi yang tidak sama persis. Assalamu'alaikum, Kak Zainuri dan Keluarga!
Muhammad Misbah
Jakarta, 26 Ramadhan 1443 H
📷 Temu Perdana dengan Kak Zainuri (Founding Father Remush Nuri)
#ramadhanmenulis #30harimenulis #belajarnulis