Sahabat yang dimaksud di sini adalah sahabat Nabi, yakni Umar ibn Khaththab dan Hisyam ibn Hakim -radhiyallahu'anhuma- terkait perbedaan cara baca Al-Qur'an di antara mereka.
Suatu waktu, di masa Nabi masih hidup, Umar salat di belakang Hisyam (menjadi makmum). Ketika itu Hisyam membaca surah al-Furqan dengan wajh bacaan yang berbeda dengan yang diterima Umar dari Nabi yang Umar mengira itu bacaan yang salah. Diceritakan bahwa hampir saja Umar melabraknya saat dalam salat. Namun ia berusaha sabar sampai selesai salat.
Begitu salam, ia menarik sorban Hisyam,
"Siapakah yang membacakan (mengajarkan bacaan) surat itu kepadamu?" kata Umar.
"Rasulullah yang membacakannya kepadaku" jawab Hisyam.
"Dusta kamu, sungguh Rasul telah membacakan surat ini kepadaku tidak seperti yang kamu baca" sanggah Umar.
Kemudian Umar membawanya menghadap ke Rasul dan menceritakan duduk perkaranya.
"Lepaskan dia, hai Umar. Bacalah surat tadi, hai Hisyam!"
Setelah Hisyam membaca, Rasul mengatakan "Demikianlah surat itu diturunkan". Rasul melanjutkan "Bacalah hai Umar!" Setelah Umar membaca, Rasul mengatakan "Demikianlah surat itu diturunkan"
"Sungguh, Qur'an ini diturunkan dengan tujuh huruf (wajh), maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya." Nabi mengakhiri.
Kisah ini di antaranya terdapat di hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukharinya. Atau umumnya bisa kita temukan di buku/kitab Ulumul Qur'an bab Ilmu Qira'at.
Pelajaran: apa yang tak kita ketahui, bukan berarti itu salah. Dan apa yang kita ketahui kebenarannya, boleh jadi itu bukan satu-satunya kebenaran. Wallahu a'lam.
Jakarta, 31 Mei 2023
📷 Pancor, Lombok Timur, 21/5/22
catatanbelajartitipsini