Empat Istilah yang Harus Dipahami Pembaca Al-Qur'an

Ketika membaca Al-Qur’an, kita tidak akan terlepas dari suatu istilah yang disebut dengan qira’ah. Qira’ah dalam arti cara membaca Al-Qur’an dari ragam-ragam cara baca yang ada (qira’at) yang tertuang dan dibahas dalam salah satu cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur’an, yakni ilmu Qira’at sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.

Banyak di antara kita ketika membaca Al-Qur’an tidak memahami bahkan pula tidak tahu qira’ah apa yang sedang diterapkan. Karena setiap pembaca Al-Qur’an pasti akan menggunakan salah satu qira’ah dari ragam qira’at yang ada ketika membaca Al-Qur’an.[1] Selain menggunakan qira’at, kita juga pasti tidak terlepas dari menggunakan yang disebut riwayat, thariq, serta khilaf, karena yang demikian itu adalah satu kesatuan atau satu paket dalam membaca Al-Qur’an. Contohnya adalah qira’at ‘Ashim riwayat Hafhs thariq asy-Syathibiyyah dengan wajh sesuai dari bacaan yang sedang dibaca. Ataupun qira’at Nafi riwayat Warsy dengan thariq yang sama, serta contoh-contoh yang lainnya.

Empat istilah itulah (terutama thariq) yang sangat ditekankan oleh gurunya para guru, dosennya para dosen PTIQ, yakni Dr. KH. Muhsin Salim untuk wajib diketahui oleh para pembaca Al-Qur’an, terlebih bagi pembelajar ilmu-ilmu Al-Qur’an dan para guru yang memiliki misi suci untuk mengajarkan cara baca Al-Qur’an kepada masyarakat khalayak umum, karena dengan itulah seorang qari’ akan terhindar dari tarkib ath-thuruq (تركب الطروق) yang oleh para ulama qira’at menyebutnya sebagai cara baca aib, makruh, bahkan haram karena tidak sejalan dengan periwayatan. Berikut ini penjelasan dari keempat istilah tersebut:

a.       Qira’at

Qira’at adalah bacaan Al-Qur’an yang disandarkan kepada para imam-imam qira’at. Contohnya adalah seperti penyebutan qira’at ‘Ashim, qira’at Hamzah, qira’at Nafi, dan lain-lain.

b.      Riwayat

Riwayat adalah bacaan Al-Qur’an yang disandarkan kepada para rawi, yakni murid dari imam qira’at, baik yang belajar kepada imam qira’at secara langsung maupun secara tidak langsung. Contohnya seperti penyebutan riwayat Hafsh[2], riwayat Warsy, riwayat Qunbul, dan lain-lain.

c.       Thariq

Thariq adalah jalur penyebaran cara baca rawi yang disampaikan oleh para ulama ke seluruh penjuru dunia Islam, seperti Imam asy-Syathibi melalui kitabnya asy-Syathibiyyah sehingga disebut thariq asy-Syathibiyyah.[3]

d.      Khilaf

Khilaf (dalam konteks ilmu qira’at) adalah perbedaan cara baca dari cara-cara yang ada. Khilaf disebut juga dengan istilah wajh. Khilaf terbagi menjadi dua, yakni khilaf wajib dan khilaf jaiz.

1)      Khilaf wajib adalah perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an yang wajib dijaga dan dibaca secara berbeda. Contohnya adalah perbedaan dalam memilih qira’at, riwayat, dan thariq.

2)      Khilaf jaiz adalah perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an yang boleh dengan memilih salah satu dari beberapa cara yang ada. Contohnya ketika membaca ayat yang dihukumi mad aridh lissukun, boleh memilih salah satu dari tiga cara, yakni membacanya dengan panjang 2 atau 4 atau 6 harakat dengan tetap menjaga keserasiannya. Contoh lain adalah ketika akan memulai membaca Al-Qur’an, yakni membaca isti’adzah, basmalah, dan awal surah, maka boleh memilih salah satu dari empat macam cara yang ada.


[1] Kecuali jika membaca dengan metode jamak qira’at yang di mana ketika membaca Al-Qur’an membaca dengan beberapa qira’at dengan mengulangi potongan ayat yang dibaca berbeda oleh qira’at, riwayat, thariq ataupun wajh yang diterapkan pembaca.

[2] Jika ditulis bersama dengan nama imam qira’at, maka tertulis “qira’at ‘Ashim riwayat Hafsh” atau bisa juga “riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim”. Demikian juga dengan contoh yang lainnya.

[3] Muhsin Salim, Tahsin (Tajwid) Bacaan Al-Qur’an dalam Riwayat Hafsh Thariq Asy-Syathibiyyah, (Jakarta: Yataqi, 2021), h. ix.

Muhammad Misbah

Menulis apa yang disampaikan guru, catatan belajar, atau walaupun hanya sekadar unek-unik. Titip di sini biar mudah dicari dan ngga hilang dimakan rayap.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama