Mengenal Imam 'Ashim, Imam Hafsh, dan Imam Syathibi



Qira'at 'Ashim riwayat Hafsh thariq asy-Syathibiyyah adalah bacaan yang paling populer di seluruh antero penjuru dunia. Sebelum lebih jauh membicarakan tentang karakteristik atau kaidah yang berlaku dalam qira'ah ini, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu orang-orang yang dimaksud di balik nama qira'ah tersebut. Berikut ini biografi yang sangat singkat tentang tiga imam dimaksud, agar kita mengenalnya. Tentu akan jauh lebih baik lagi jika teman-teman membaca biografi mereka yang lebih lengkap, contohnya misalnya di kitab al-Ma'rifah al-Qurra' al-Kibar karya Imam adz-Dzahabi dan kitab-kitab lainnya. 

a.      Imam ‘Ashim

Nama lengkapnya adalah ‘Ashim bin Abi an-Najud al-Asadi al-Kufi. Tidak diketahui secara pasti tentang tahun kelahiran imam ‘Ashim, namun terkait dengan wafatnya, ada yang menyebutkan beliau wafat tahun 127 H, ada juga yang menyebutkan 128 H. Ia termasuk marga al-Asadi al-Kufi. Al-Asadi adalah nisbah pada marganya, dan al-Kufi adalah nisbah kepada daerah tempat tinggalnya, yaitu Kufah.

Imam ‘Ashim menimba ilmu Al-Qur’an dan Qira’at dari tiga orang gurunya, yaitu Abdurrahman as-Sulami, Zirr bin Hubaisy, dan Sa’ad bin Ilyas as-Syaibani.

Berikut adalah transmisi sanadnya yang bersambung secara muttasil kepada Nabi Muhammad Saw: as-Sulami belajar kepada lima sahabat; Ustman, Abdullah bin Mas’un, Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Mereka belajar langsung dari Nabi Muhammad Saw. Zir bin Hubaisy belajar kepada Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad Saw. Al-Syaibani belajar kepada Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad Saw.[1]

Imam ‘Ashim merupakan salah satu dari imam qira’at. Ia adalah guru dari imam Hafsh dan imam Syu’bah. Sebenarnya imam ‘Ashim memiliki banyak murid, namun dua nama itulah yang dipilih oleh Imam Ibnu Mujahid untuk dikelompokkan menjadi bagian dari Qira’at Tujuh berdasarkan penelitian mendalam yang ia lakukan. Atau dikatakan juga bahwa Hafsh dan Syu’bah adalah dua murid utama dari imam ‘Ashim.

b.      Imam Hafsh

Nama lengkapnya adalah Hafsh bin Sulaiman bin al-Mughiroh bin Abi Daud al-Asadi al-Kufi. Beliau dilahirkan pada tahun 90 H. Ia  menghabiskan banyak waktunya untuk belajar ilmu Qira’at kepada imam ‘Ashim, guru yang di kemudian hari menjadi ayah tirinya. Maka tidak heran jika disebutkan ia sebagai murid Imam ‘Ashim yang paling mengetahui bacaan imam ‘Ashim. Hal inilah yang membuatnya memiliki banyak kesempatan untuk talaqqi kepada imam ‘Ashim.

Sangatlah beralasan jika Yahya bin Ma’in mengatakan, “Riwayat yang sahih dari imam ‘Ashim adalah riwayat Hafsh.” Abu Hasyim ar-Rifa’i juga mengatakan bahwa Hafsh adalah orang yang paling mengetahui bacaan (qira’at) imam ‘Ashim. Imam Dzahabi memberikan penilaian serupa. Dalam penguasaan materi qira’at, Hafsh adalah seorang tsiqah (terpercaya) dan tsabt (mantap).[2]

Bacaan imam Hafsh adalah bacaan (qira’at) yang paling masyhur di antara qira’ah-qira’ah yang ada. Adapun alasan kenapa qira’ahnya menjadi yang paling populer dibandingkan dengan qira’ah lainnya akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

Terkait dengan bacaannya yang berbeda dengan teman seperguruannya kepada imam ‘Ashim, imam Hafsh bertanya kepada guru sekaligus ayah tirinya tersebut, Imam 'Ashim, "Kenapa bacaan yang Engkau ajarkan kepadaku, (banyak) berbeda dengan bacaan yang Engkau ajarkan kepada Syu'bah?". "Yang aku ajarkan kepadamu adalah bacaan yang aku terima dari Abdurrahman as-Sulami dari Ali bin Thalib dari Nabi Muhammad Saw. Sedangkan yang aku ajarkan kepada Syu'bah adalah bacaan yang aku terima dari Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi Muhammad Saw" jawab Imam 'Ashim. Runtutan Periwayatan: Hafsh bin Sulaiman - 'Ashim bin Abi an-Najud - Abdurrahman as-Sulami - Ali bin Abi Thalib - Nabi Muhammad Saw. Kemudian Syu'bah bin 'Ayyasy - Ashim bin Abi an-Najud - Zirr bin Hubaisy - Abdullah bin Mas'ud - Nabi Muhammad Saw.[3]

c.       Imam Syathibi

Nama lengkapnya adalah al-Qasim bin Firruh bin Khalaf bin Ahmad. Beliau dilahirkan pada tahun 538 H di kota Syathibah, salah satu kota di wilayah Andalusia (Spanyol sekarang). Lantaran sebab inilah beliau lebih dikenal dengan sebutan imam Syathibi, dinisbatkan kepada daerah tempat kelahirannya. Beliau menguasai berbagai macam bidang ilmu keislaman, di antaranya ilmu Qira’at, ilmu Hadis, ilmu Tafsir, Ilmu Lughah Arabiyah, dan bidang ilmu yang lainnya, namun yang paling menonjol dari semua itu adalah ilmu Qira’at.

Beliau memulai pengembaraan pembelajaran ilmu Qira’at di kota kelahirannya, Syathibah kepada Abu Abdillah Muhammad bin Abi al-As an-Nafzi. Setelah dari itu, ia melanjutkan pembelajaran ilmu Qira’at-nya kepada Abu al-Hasan bin Hudzail di kota Balansia. Kepada gurunya ini, ia mentasmi’kan kitab at-Taisir[4] karya Imam Abu Amr ad-Dani (w. 444 H). yang telah beliau hafalkan di luar kepala.

Setelah sekian waktu berguru kepada Abu al-Hasan bin Hudzail, ia berangkat untuk menunaikan ibadah rukun Islam kelima, yakni ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah. Seperti biasa, orang Andalusia yang melaksanakan ibadah haji singgah terlebih dahulu di Iskandariah sebagai Pelabuhan laut  negara Mesir. Di kota inilah beliau menimba ilmu kepada salah seorang ulama hadis terkemuka, Abu Tahir as-Silafi.[5]

Di negeri Mesir namanya sudah sangat masyhur, maka ketika ia sampai di kota ini ia diberikan sambutan hangat oleh ulama terkemuka di kota ini, yaitu al-Qadhi al-Fadhil dan beliau diminta untuk menjadi guru di Madrasah al-Fadhiliyyah, yaitu madrasah yang dibangun oleh al-Qadhi. Di madrasah inilah imam Syathibi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an dengan mengajar dan termasuk juga menulis kitab.

Kitab Hirzul Amani wa Wajh at-Tahani atau yang populer
dengan sebutan Matan Syathibiyyah karya Imam Syathibi

Hirzul Amani wa Wajhu at-Tahani adalah di antara goresan pena beliau yang ditulis di Mesir. Kitab ini berisi untaian bait-bait nazham berjumlah 1173 bait yang membahas tentang ilmu Qira’at Tujuh. Nama lainnya adalah Matan asy-Syathibiyyah, al-Hirz, Qasidah Lamiyah. Sesiapa yang mempelajari ilmu Qira’at pasti mengkaji kitab ini, kalau pun tidak secara langsung, maka sumber rujukan yang digunakan pasti bermuara ke kitab ini.

Imam Syathibi diketahui hidup semasa dengan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, maka dari itulah disebutkan bahwa sewaktu pembebasan al-Quds, imam Syathibi ziarah ke Palestina dan memberikan ucapan selamat kepada sang sultan atas keberhasilannya membebaskan al-Quds, yakni pada tahun 589 H, setahun sebelum beliau meninggal dunia. Beliau imam Syathibi meninggal pada tahun 590 H di Mesir dan dimakamkan di Mesir pula, tepatnya di Kota Qurafah.



[1] Muhammad Fathurrozi, “Biografi Ashim bin Abi al-Najud, Imam Qira’at yang Sangat Kuat Hafalannya” dalam https://islam.nu.or.id/ilmu-al-quran/biografi-ashim-bin-abi-al-najud-imam-qiraat-yang-sangat-kuat-hafalannya-rEa0z, diakses pada 22 Juni 2023.
[2] Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, h. 71.
[3] Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, h. 72-73.
[4] At-Taisir adalah kitab yang ditulis oleh Imam Abu Amr ad-Dani (w. 444 H) yang membahas tentang ilmu Qira’at Tujuh. Kitab ini di kemudian hari digubah oleh Imam Syathibi menjadi dalam bentuk untaian bait-bait nazham atau syair berjumlah 1173 bait yang diberi judul Hirzul Amani wa Wajhuttahani, atau yang lebih masyhur dengan sebutan Matan Syathibiyyah.
[5] Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, h. 52.

Muhammad Misbah

Menulis apa yang disampaikan guru, catatan belajar, atau walaupun hanya sekadar unek-unik. Titip di sini biar mudah dicari dan ngga hilang dimakan rayap.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama