Salah satu materi tajwid yang diajarkan oleh guru saya, Usth. Syarifah Muznah -hafizhahallah- ketika masih di TPQ dulu adalah "Lam Ta'rif" atau "Al (ال). Beliau menjelaskan lam ta'rif terbagi menjadi dua, yakni Izhar Qamari dan Idgham Syamsi atau istilah lainnya Alif Lam Qamariah dan Alif Lam Syamsiyah atau bisa juga Lam Qamariah dan Lam Syamsiyah
Ada yang menarik pada hukum tajwid yang satu ini, yakni penamaannya yang menggunakan kata الْقَمَر/al-Qamar yang berarti bulan dan الشَّمْس/asy-Syams yang berarti matahari. Muncul pertanyaan, kenapa menggunakan nama bulan dan matahari? Ada apa dengan bulan dan matahari? Kira-kira begini penjelasannya, saya dapatkan dari al-Muqri' Dr. Muhsin Salim -hafizhahullah-.
Huruf-huruf izhar qamari yang empat belas itu ( ابْغَ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيْمَهُ) laksana bulan, kemudian huruf-huruf idgham syamsi itu (selain yang disebutkan di atas) laksana matahari, sementara 'al' (ال) itu laksana bintang.
Bukankah ketika bulan bersinar, bintang-bintang dapat terlihat? -baik jelas atau tidak- (seperti di malam hari). Begitulah "al" pada izhar qamari, terbaca atau terdengar dengan jelas. Contohnya kata القمر dibaca al-Qamar atau الفاتحة dibaca al-Fatihah, lam sukunnya terbaca.
Beda dengan matahari, ketika ia bersinar, bintang-bintang di langit sulit atau bahkan tidak dapat kita lihat (seperti di siang hari). Begitulah "al" pada idgham syamsi, tidak terlihat alias tidak terbaca melainkan langsung diidgham atau dimasukkan ke huruf setelahnya. Contohnya الشّمس dibaca asy-Syamsu atau النّازعات dibaca an-Naziat, bukan al-syamsu atau al-naziat.