Tahun 1958, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), atas perannya dalam mendakwahkan Islam di Tanah Air, oleh Universitas Al-Azhar Kairo diberi gelar ilmiah 'Ustadziyah Fakhriyah' atau 'Doctor Honoris Causa'. Beliau adalah orang pertama yang menerima gelar tersebut dari Al-Azhar.
Berangkat dari Jeddah selepas memenuhi undangan Raja Saud, beliau bersegera ke Kairo untuk menerima penyerahan gelar kehormatan tersebut. Tapi, karena pada tahun itu suasana politik di Mesir sangat sibuk dengan Republik Persatuan Arab (RPA), penganugerahan secara resmi pun ditunda. Juga karena adanya pemberontakan PRRI di Sumatra, akhirnya beliau bertolak ke Tanah Air.
Setiba di Indonesia, beliau mendapati Masjid Agung Kebayoran (depan rumah beliau) telah selesai dibangun, dengan izin pengurus Yayasan, beliau memulai mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti shalat berjama'ah, Kajian Tafsir ba'da subuh, kajian Tasawuf malam selasa, pengajian ibu-ibu, dan lain-lain.
Dua tahun sudah, pada 1960 Syaikh Mahmoud Syaltout -Warek Al-Azhar waktu itu- berkunjung ke Indonesia. Salah satu tujuan kedatangannya adalah untuk bertemu dengan tokoh yang diberi gelar kehormatan oleh Al-Azhar 2 tahun silam, Ketua MUI pertama, Buya Hamka.
Pertemuannya diadakan di Masjid Agung Kebayoran, dan pada waktu itulah Syaikh Mahmoud Syaltout memberikan nama Al-Azhar untuk masjid ini. Harapannya semoga masjid ini menjadi Al-Azhar di Jakarta, sebagaimana adanya Al-Azhar di Kairo. Sejak saat itu, namanya berubah menjadi Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran.
Selain itu, karena Buya Hamka mengkaji Tafsir yang ia tulis di masjid agung ini, maka tafsir beliau diberi nama 'Tafsir Al-Azhar'.
Referensi:
Tafsir Al-Azhar (bag. Pendahuluan), Prof. Dr. Hamka
Ayah, Irfan Hamka
🕌 Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran, Jakarta Selatan
@almisbah19
Srengseng Sawah, 25 Jumadil Akhir 1443 H