Ketika Abah Udah di Lokasi Tapi Batal Ngisi Acara

Waktu itu masih dalam suasana kesejukan bulan suci Ramadhan, guruku Abah Muhsin Salim memintaku untuk menemaninya mengisi kajian dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Yang mengundang itu adalah muridnya. Muridnya itu aktif belajar kepada beliau waktu masih kecil dulu, diserahkan dan diantarkan langsung oleh orang tuanya untuk belajar Al-Qur’an kepada Abah Muhsin.

Beliau (muridnya itu) adalah seorang perempuan alumnus Al-Azhar, Kairo. Ga tanggung-tanggung, beliau menyelesaikan pendidikan sarjana sampai doktoralnya di sana. Beliau termasuk manusia langka kalau kata Abah Muhsin, karena mampu menyelesaikan kuliah S1 sampai S3 di Al-Azhar. Nah, murid Abah ini memiliki lembaga pendidikan yang secara khusus mempersiapkan calon-calon mahasiswa yang akan belajar ke Al-Azhar, Kairo. Di tempat itulah acara Nuzulul Qur’an akan digelar.

Nah, kalau mahasiswanya Abah atau siapa saja yang aktif belajar ke Abah, pasti tau Abah orangnya bagaimana. Ulet, pekerja keras, tak kenal capek dalam belajar, disiplin. Sengaja saya tebalkan dan garisbawahi kata dispilin, karena poin itulah yang mau saya ceritakan di tulisan ini, hehe.

Jadi waktu itu, beliau sudah konfirmasi ke muridnya itu, kira-kira jam berapa beliau akan mulai menyampaikan materi dan berapa lama durasi atau waktu yang disediakan, yaitu dimulai jam 16.30 WIB dan waktu yang disediakan selama kurang lebih satu jam. Fyi, Kebiasaan beliau setiap mau mengisi kajian adalah datangnya pasti sebelum waktu acara dimulai. Tidak terlambat gitu. Ini kerensih menurut saya, karena sekarang ini banyak pengisi suatu acara (ustadz) datangnya setelah acara dimulai atau bahkan sampai ditunggu-tunggu oleh jama’ah.

Ya, emang ga salah juga sih kalau seorang ustadz yang ditunggu jama’ah. Yang salah itu kalau ustadz yang menunggu jama’ah. Jama’ahnya pada telat berjama’ah wkwk. Tapi bagi saya pribadi, kepada ustadz, guru, dosen atau siapalah yang kalau ada pertemuan yang udah ditentuin waktunya dan beliau datang on-time, saya bener-bener respect. MasyaAllah, keren, mantap.

Lanjut ke cerita tadi. Akhirnya kami tiba di lokasi acara pukul 16.10. Nanti kita keluar mobil dan ke lokasi 16.15 kata Abah. Saya ngikut instruksi Abah. Ketika di lokasi, seperti halnya orang yang lama tak jumpa, beliau berbincang-bincang santai dulu dengan muridnya tersebut sebelum acara dimulai. Sekian menit kemudian terdengar lantunan shalawat dilantunkan sambil diiringi dum-tak-dum tim hadroh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.

Tepat ketika jam menunjukkan pukul 16.30, tim hadroh belum selesai menampilkan performanya. Padahal sebagaimana ketika di konfirmasi sebelumnya, bahwa jam pukul demikian adalah waktu Abah untuk mulai menyampaikan materinya. Detik demi detik bergulir, menit demi menit silih berganti, hingga pukul 17.00, hadroh belum selesai-selesai jua, dan Abah belum juga disilakan untuk menyampaikan materinya. Akhirnya Abah berbisik kepada saya, nanti kalau sampai jam sekian belum juga dimulai, kita pulang saja, nanti kita buka puasa di jalan. Baik Abah, saya manut.

Akhirnya Abah mengajak saya pulang, kemudian pamit kepada tuan rumah yang tidak lain adalah muridnya itu. Maaf, saya pulang dulu, silakan acara dilanjutkan. Kurang lebih begitulah kata Abah. Lah muridnya kaget, kan Abah belum menyampaikan ceramahnya. Beliau mencoba menahan Abah. Tapi akhirnya kami (Abah dan saya) pulang juga meski beliau (muridnya Abah) mengikuti kami sampai ke depan mobil sambil meminta maaf.

Ketika dalam perjalanan, Abah dawuh ke saya, itu tadi (acara) nggak bener. Padahal Abah udah tanya jam berapa Abah akan mulai bicara menyampaikan ceramah, katanya 16.30, dan kita sudah stand by di lokasi pukul 16.15 tapi sampai pukul 17.00 acaranya belum juga dimulai. Itu namanya nggak disiplin.

Saya bingung. Satu sisi saya merasa tidak enak kepada tuan rumah karena akhirnya Abah tidak jadi mengisi di acara tersebut. Di sisi lain, ya Abah betul juga. Karena memang janjiannya Abah akan mulai berbicara 16.30, tapi sampai 17.00 lewat hadroh belum juga selesai. Saya memahaminya ya bukan Abah tak menghargai tuan rumah atau apa ya, tapi ya karena memang tuan rumahnya yang tidak komit sama jadwal yang disepakati. Hal ini bagi Abah adalah yang kurang disukai, tidak disiplin. Akhirnya kamipun pulang buka puasa di Emado’s Shawarma, Lebak Bulus. Dzahabaz zhama'u, wabtallatil 'uruqu, wa tsabatal ajru, insya Allah. Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa 'ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin. Alhamdulillah.

Pelajarannya apa? Silakan direnungi saja! Pasti pahamlah, hehe.

 

Jakarta, 4 Oktober 2023

Muhammad Misbah

Muhammad Misbah

Menulis apa yang disampaikan guru, catatan belajar, atau walaupun hanya sekadar unek-unik. Titip di sini biar mudah dicari dan ngga hilang dimakan rayap.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama