Kendati semua ragam bacaan yang ada berasal dari Nabi Muhammad Saw, dari semua qira’ah itu, mereka memiliki karakteristik dan kekhasannya masing-masing yang menjadikannya berbeda dengan ragam qira’ah yang lainnya, seperti para imam Qira’at Tujuh dan Qira’at Sepuluh.
Namun, perlu digarisbawahi kembali bahwa semua perbedaan dari masing-masing imam tersebut adalah benar, karena qira’at itulah yang berdasarkan penelitian ilmiah para ulama ahli qira’at mengatakan dapat dii’tiqadkan sebagai Al-Qur’an sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena dinilai memenuhi kualifikasi rukun-rukun qira’at yang benar, yakni sanadnya shahih, sesuai dengan kaidah bahasa Arab, dan sesuai dengan penulisan mushaf Utsmani.
Bacaan Al-Qur’an dengan qira’at ‘Ashim riwayat Hafsh thariq asy-Syathibiyyah adalah bacaan yang sangat masyhur, atau boleh dikatakan sebagai qira’at yang paling masyhur di antara qira’at yang lain karena tersebar dan digunakan oleh mayoritas kaum muslimin di seantero dunia. Bagaimana dan mengapa qira’at ini bisa menjadi qira’at yang paling masyhur di seantero dunia? Berikut ini beberapa alasan yang boleh jadi melatarbelakangi qira’at ‘Ashim riwayat Hafsh tersebar menjadi bacaan yang paling masyhur di seantero dunia.
a. Imam Hafsh pulang pergi dari Kufah ke Baghdad untuk mengajar Al-Qur’an. Di antara yang belajar padanya adalah orang-orang yang dekat dari kota Makkah. Seperti diketahui bahwa Makkah sebagai pusat studi keislaman tentu menjadikannya banyak didatangi orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk mempelajari ilmu Syariah. Termasuk di antara pelajarannya adalah ilmu Qira’at. Ulama dari Indonesia umpamanya yang belajar di Makkah ketika pulang ke daerahnya tentunya mengajarkan bacaan sesuai yang mereka terima dari gurunya, dalam hal ini riwayat imam Hafsh. Seperti halnya masyarakat Indonesia membaca Al-Qur’an berdasarkan riwayat Hafsh sejak masa awal datangnya Islam ke Indonesia, karena para pendakwah mengajarkan riwayat bersangkutan.
b. Banyak cetakan Al-Qur’an yang dikutip adalah yang sesuai dengan qira’at Ashim riwayat Hafsh. Seperti pada tahun 1694 percetakan Abraham Hincklemann di Hamburg, Jerman mencetak Al-Qur’an dan qira’ah yang digunakan dalam percetakannya adalah qira’at ‘Ashim riwayat Hafsh.
c. Literal, antara bacaan dan tulisan relatif sama.[1]
d. Jika dilihat dari segi materi ilmiah, riwayat Hafsh relatif mudah dibaca bagi orang yang non-Arab mengingat beberapa hal.
Pertama, tidak banyak bacaan imalah kecuali pada kata (مجراها) di surah Hud. Hal ini berbeda dengan bacaan Syu’bah, Hamzah, al-Kisa’i, Abu Amr, dan Warsy yang banyak membaca imalah.
Kedua, tidak ada bacaan shilah mim jama’ sebagaimana apa yang kita lihat pada bacaan Qalun dan Warsy. Bacaan shilah membutuhkan kecermatan bagi pembaca, mengingat bacaan ini tidak ada tanda tertulisnya.
Ketiga, dalam membaca mad muttashil dan munfashil, bacaan riwayat Hafsh terutama thariq Syathibiyyah tidak terlalu panjang sebagaimana bacaan Warsy dan Hamzah yang membutuhkan napas yang panjang. Bahkan, dalam Thariq Thayyibah -melalui jalur ‘Amr bin ash-Shabbah thariq Zar’an dan al-Fil-, bacaan Hafsh dalam mad munfashil bisa qashr (2 harakat).
Keempat, dalam membaca hamzah, baik yang bertemu dalam satu kalimat atau dua kalimat, baik berharakat atau sukun, riwayat Hafsh cenderung membaca tahqiq yaitu membaca dengan tegas (syiddah) dengan tekanan suara dan napas yang kuat sehingga terkesan kasar. Hal ini berbeda dengan bacaan Nafi’ melalui riwayat Warsy, Qalun. Bacaan Abu Amr melalui riwayat ad-Duri dan as-Susi. Bacaan Ibn Katsir melalui riwayat al-Bazzi dan Qunbul dari Ibnu Katsir yang banyak mengubah bacaan hamzah menjadi lunak. Contohnya pada hamzah sakinah atau jika ada dua hamzah bertemu dalam satu kata atau dua kata. Imam Hafsh mempunyai bacaan tashil baina-baina hanya pada satu tempat saja, yaitu pada kata (ءأعجمي) di surah Fushshilat: 44.
Kelima, Hafsh mempunyai bacaan isymam hanya disatu tempat yaitu pada kata (لا تأمنا) sebagaimana juga bacaan imam lainnya selain Abu Ja’far.
Keenam, Hafsh mempunyai bacaan mad shilah qashirah hanya pada kalimat (ويخلد فيه مهانا) di surah Al-Furqan: 69. Hal ini berbeda dengan bacaan Ibn Katsir yang banyak membaca shilah Ha’ kinayah.[2]
e. Bacaan Hafsh juga lebih masyhur jika dihadapkan atau dibandingkan dengan riwayat Syu’bah yang juga merupakan murid/rawi dari imam ‘Ashim, di antaranya karena 1) Hafsh adalah rabibah (anak tiri) dari ‘Ashim. Hafsh ditinggal wafat ayahnya dalam usia belia. Lalu ibunya dinikahi oleh ‘Ashim. Sehingga kemungkinan Hafsh lebih banyak berinteraksi dengan ‘Ashim lebih banyak dari pada Syu’bah. 2) Hafsh mempunyai murid yang lebih banyak dalam ilmu qiraah dibandingkan imam Syu’bah. Dengan banyaknya murid Hafsh dari berbagai belahan dunia semakin mudahlah qiraah Hafsh mendominasi berbagai daerah. 3) Sejarah mencatat bahwa di masa tua, Hafsh menghabiskan seluruh usia senjanya dengan mengajarkan Al-Qur’an. Sementara Syu’bah telah menutup pengajian Al-Qur’an di majelisnya sekitar tujuh tahun sebelum wafat. Kemudian Syu’bah menghabiskan seluruh usia senjanya dengan mengajarkan hadis.[3]
Demikianlah di antara alasan yang boleh jadi menjadi penyebab qira’at ini menjadi qira’at yang paling masyhur di seluruh dunia. Di antara uraian di atas, telah dijelaskan pula bahwa beberapa karakteristik seperti qira’at ini tidak banyak bacaan imalah, isymam dan lain-lain.
___[1] M. Misbah, et.al., Membelai Al-Qur’an, (Jakarta: Azzam Press, 2022), h. 4-5.
[2] Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, (Jakarta: Qaf, 2019), h. 78-79.
[3] M. Tholhah Alfayad, “Qira’ah Sab’ah 8: Kisah Imam ‘Ashim dan Kedua Muridnya”, dalam https://alif.id/read/mtf/kisah-imam-ashim-dan-kedua-muridnya-b226448p/. Diakses pada 31 Mei 2023.
