A.
Manusia Menurut Pandangan
Islam
Ada beberapa dimensi manusia dalam
pandangan Islam, yaitu:[1]
1.
Manusia Sebagai Hamba Allah (Abd Allah)
Sebagai hamba Allah, manusia wajib mengabdi dan taat kepada Allah
selaku Pencipta karena adalah hak Allah untuk disembah dan tidak disekutukan.[2] Bentuk pengabdian manusia
sebagai hamba Allah tidak terbatas hanya pada ucapan dan perbuatan saja,
melainkan juga harus dengan keikhlasan hati, seperti yang diperintahkan dalam
surah al-Bayyinah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus …” (QS. 98:5).
Dalam surah adz-Dzariyat Allah menjelaskan: “Tidaklah Aku `ciptakan
jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku.” (QS. 51:56). Dengan
demikian manusia sebagai hamba Allah akan menjadi manusia yang taat, patuh dan
mampu melakoni perannya sebagai hamba yang hanya mengharapkan ridha Allah.
2.
Manusia Sebagai an-Nas
Di dalam Al-Qur’an
juga disebut dengan an-Nas. Konsep an-Nas ini cenderung mengacu pada status manusia dalam
kaitannya dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya. Berdasarkan fitrahnya
manusia memang makhluk sosial. Dalam hidupnya manusia membutuhkan pasangan, dan
memang diciptakan berpasang-pasangan seperti dijelaskan dalam surah an-Nisa’,
“Hai sekalian manusia, bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu
dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istirinya, dan dari pada
keduanya Alah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta
satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. 4:1).
Selanjutnya dalam surah al-Hujurat dijelaskan:
“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.
49:13). Dari dalil di atas bisa dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial,
yang dalam hidupnya membutuhkan manusia dan hal lain di luar dirinya untuk
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya agar dapat menjadi bagian dari
lingkungan soisal dan masyarakatnya.
3.
Manusia Sebagai Khalifah
Hakikat manusia sebagai khalifah di bumi dijelaskan dalam surah
Al-Baqarah ayat 30: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka
berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (QS. 2: 30), dan surah Shad ayat
26,“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (peguasa) di muka
bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. …” (QS.
38:26).
Dari kedua ayat di atas dapat dijelaskan bahwa
sebutan khalifah itu merupakan anugerah dari Allah kepada manusia, dan
selanjutnya manusia diberikan beban untuk menjalankan fungsi khalifah tersebut
sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.[3] Sebagai khalifah di bumi manusia mempunyai
wewenang untuk memanfaatkan alam (bumi) ini untuk memenuhi Kebutuhan hidupnya
sekaligus bertanggung jawab terhadap kelestarian alam ini. seperti dijelaskan
dalam surah al-Jumu’ah, “Maka apabila telah selesai shalat, hendaklah kamu
bertebaran di muka bumi ini dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah
banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. 62: 10), selanjutnya dalam surah
Al-Baqarah disebutkan: “Makan dan minumlah kamu dari rezeki yang telah
diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu berbuat bencana di atas bumi.” (QS. 2 : 60).
4.
Manusia Sebagai Bani Adam
Sebutan manusia sebagai bani Adam merujuk kepada berbagai
keterangan dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia adalah keturunan Adam
dan bukan berasal dari hasil evolusi dari makhluk lain seperti yang dikemukakan
oleh Charles Darwin. Konsep bani Adam mengacu pada penghormatan kepada nilai-nilai
kemanusiaan. Konsep ini menitikberatkan pembinaan hubungan persaudaraan
antar sesama manusia dan menyatakan bahwa semua manusia berasal dari keturunan
yang sama.
Dengan demikian manusia dengan latar belakang sosia kultural,
agama, bangsa dan bahasa yang berbeda tetaplah bernilai sama, dan harus
diperlakukan dengan sama. Dalam surah al-A’raf dijelaskan: “Hai anak Adam,
sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan
pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang
demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, semoga mereka
selalu ingat. Hai anak Adam janganlah kamu ditipu oleh syaitan sebagaimana ia
telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, …” (QS 7: 26-27).
5.
Manusia Sebagai al-Insan
Manusia disebut al- insan dalam Al-Qur’an mengacu pada potensi yang
diberikan Tuhan kepadanya. Potensi antara lain adalah kemampuan berbicara (QS.55:4),
kemampuan menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu (QS.6:4-5), dan
lain-lain. Namun selain memiliki potensi positif ini, manusia sebagai al-Insan
juga mempunyai kecenderungan berprilaku negatif (lupa). Misalnya dijelaskan
dalam surah Hud: “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, kemudian
rahmat itu kami cabut dari padanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak
berterima kasih.” (QS 11:9).
6.
Manusia Sebagai Makhluk Biologis (al-Basyar)
Hasan Langgulung mengatakan bahwa sebagai makhluk biologis manusia
terdiri atas unsur materi, sehingga memiliki bentuk fisik berupa tubuh kasar
(ragawi). Dengan kata lain manusia adalah makhluk jasmaniah yang secara umum
terikat kepada kaedah umum makhluk biologis seperti berkembang biak, mengalami
fase pertumbuhan dan perkembangan, serta memerlukan makanan untuk hidup, dan
pada akhirnya mengalami kematian.
Dalam Al-Qur’an surah al-Mukminun dijelaskan: “Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari sari pati tanah. Lalu Kami jadikan saripati
itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani
itu Kami jadikan segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, dan segumpal
daging itu kemudian Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain, maka
Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS 23: 12-14).
B.
Proses Penciptaan Manusia
Perspektif Islam
Dalam Al-Qur’an, terdapat ayat-ayat yang secara jelas menjelaskan
tentang asal-usul kejadian manusia yang mendiami bumi. Di antaranya adalah
firman Allah SWT:
وَاِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ
حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ
فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering
dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan
(kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka
tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS.
Al-Hijr [15]: 28-29).
Term-term tentang Penciptaan Manusia
dalam Al-Qur’an
Ayat-ayat lainnya yang menjelaskan tentang
asal-usul kejadian manusia di bumi dapat dilihat pada surah 38:71-76. Dalam
proses penciptaan manusia pada tahap awal, ada empat kata kunci atau term yang
digunakan dalam Al-Qur’an, yakni turab, thin, hama’in masnun, dan
shalshal. Berikut ini penjelasan dari masing-masing term tersebut.
1.
Turab
Kata
turab diterjemahkan menjadi debu tanah. Disebutkan 17 kali dalam Al-Qur’an,
tujuh di antaranya berbicara tentang penciptaan manusia dari debu tanah. Turab
dimaknai sebagai partikel-partikel tanah (debu) dijelaskan pada surah 2:264.
Selanjutnya partikel-partikel ini yang menjadi unsur awal kejadian manusia.
Firman Allah SWT:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ
اَنْ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَآ اَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ
Dan
di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah,
kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (QS. Ar-Rum [30]: 20).
2.
Thin
Kata
thin diterjemahkan menjadi tanah liat. Disebutkan 12 kali dalam Al-Qur’an,
sepuluh di antaranya berbicara tentang penciptaan manusia. salah satunya:
فَاسْتَفْتِهِمْ
اَهُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمْ مَّنْ خَلَقْنَا ۗاِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّنْ طِيْنٍ
لَّازِبٍ
Maka
tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah), “Apakah penciptaan mereka yang lebih
sulit ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah
menciptakan mereka dari tanah liat. (QS.
As-Saffat [37]: 11).
3.
Hama’in Masnun
Hama’in
masnun diterjemahkan sebagai lumpur hitam. Disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an
dan semuanya membicarakan tentang penciptaan manusia. Ayat-ayat tersebut
terkumpul dalam satu surah yang sama, Al-Hijr ayat 26, 28, dan 33. Hama’in
masnun bermakna tanah yang bercampur dengan air lalu berubah warna menjadi
pekat.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا
الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ
Dan
sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari
lumpur hitam yang diberi bentuk.
(QS. Al-Hijr [15]: 26)
4.
Shalshal
Kata
shalshal bermakna model bentukan dari tanah liat (tembikar) yang belum dibakar.
Kata ini disebutkan empat kali dalam Al-Qur’an dan semuanya membahas proses
awal kejadian manusia. Salah satunya dalam surah Ar-Rahman:
خَلَقَ الْاِنْسَانَ
مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
Dia
menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (QS. Ar-Rahman [55]: 14
Pada
proses penciptaan manusia ini sampai pada tahap tembikar, Allah meniupkan ruh
ke dalamnya, maka terciptalah yang disebut dengan basyar. Peristiwa ini
dijelaskan dalam firman Allah:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ
لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ
مَّسْنُوْنٍۚ فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا
لَهٗ سٰجِدِيْنَ
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh, Aku akan
menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang
diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku
telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya
dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr
[15]: 28-29)
Ruh yang ditiupkan Allah menjadikan
manusia memiliki daya gerak dan daya hidup. Perlu dipahami, bahwa penggunakan
kata ruhi (ruh-Ku) dalam ayat ini bukan memberikan arti bahwa manusia
adalah bagian dari Allah, akan tetapi berarti manusia adalah ciptaan (makhluk)
Allah. Sedangkan kata al-nafkh bermakna meniupkan udara dari mulut, tapi bisa
juga mengandung arti metafor (majaz). Dalam konteks metafor, meniupkan ruh ke
dalam jasad adalah gambaran pengaktifan (turn on) kehidupan potensial
menjadi kehidupan aktual, bukan meniup dalam arti sebenarnya. [4]
Selain ruh, yang juga menjadi substansi
manusia seperti telah dijelaskan sebelumnya adalah tanah. Tanah disepakati oleh
para ulama sebagai kondisi awal penciptaan manusia pertama, yakni Nabi Adam as.
Beda halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Bucaille,[5] ia
mengemukakan makna tanah sebagai substansi manusia harus dipahami bahwa kelak
manusia akan menjadi tanah setelah wafat. Menurutnya substansi sebenarnya
adalah air, sebagaimana yang terdapat pada ayat berikut:
وَهُوَ الَّذِيْ
خَلَقَ مِنَ الْمَاۤءِ بَشَرًا فَجَعَلَهٗ نَسَبًا وَّصِهْرًاۗ وَكَانَ رَبُّكَ
قَدِيْرًا
Dan
Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu
(mempunyai) keturunan dan musaharah dan Tuhanmu adalah Mahakuasa. (QS. Al-Furqan [25]: 54)
Ayat ini oleh sebagian ulama tafsir
dipahami sebagai penciptaan manusia keturunan Nabi Adam as (pasca-Adam). Nabi
Adam sendiri diciptakan dari tanah seperti dijelaskan pada pembahasan
sebelumnya. Mereka memahami air dalam ayat ini sebagai air mani (sperma).
Menurut Bucaille, terdapat ayat yang mengindikasikan airlah yang sebagai
substansi atau mendominasi penciptaan Adam, yaitu surah Al-Mukminun: 12.
Jika pendapat Bucaille ini diterima, maka
dapat dikatakan bahwa unsur substansi manusia meliputi tanah, air, dan ruh.
Untuk menafikan unsur tanah sebagai salah satu unsur substantif adalah hal yang mustahil, karena terlalu
banyak ayat yang menerangkan hal tersebut.[6]
C.
Pertumbuhan dan
Perkembangan Manusia Pra-Kehidupan Dunia (Konsepsi) Perspektif Islam
Dalam Al-Qur’an dijumpai beberapa yang
menjelaskan tentang proses perkembangan manusia secara bertahap. Di antara
ayat-ayat yang membahasnya, ada dua ayat yang menggambarkan dengan detail,
yakni surah Al-Mukminun: 12-16 menggambarkan reproduksi manusia fase demi fase
selama masa prenatal atau masa sebelum lahir (pralahir). Berikut ini rincian
dari pertumbuhan dan perkembangan manusia yang dijelaskan ayat-ayat tersebut di
atas:
a.
Fase Nuthfah (Tetesan Sperma)
Nuthfah memiliki sifat
memancar dan terus bergerak ke sel telur atau ovum yang siap untuk dibuahi.
b.
Fase ‘Alaqah (Gumpalan Darah)
‘Alaqah pada umumnya diartikan
gumpalan dari darah, namun dapat pula diartikan sebagai jantung yang berfungsi
memompa darah, karena bagian itu yang pertama berproses untuk menyuplai makanan
makanan ke seluruh tubuh.
c.
Fase Mudhghah (Gumpalan Daging)
Pada fase ini terjadi proses
gumpalan darah menjadi gumpalan daging yang masih sangat lembut.
d.
Fase Terbentuknya Tulang
Pada fase ini tulang terbentuk
dibaluti atau dilapisi oleh daging, jaringan, dan otot.
e.
Fase Janin
Pada fase ini telah terbentuk
menjadi manusia sempurna meliputi jasad dan ruh, tidak hanya daging, jaringan,
otot semata.
Ayat kedua yang menjelaskan tentang proses
perkembangan manusia secara bertahap adalah surah Al-Hajj: 5. Ayat ini
menjelaskan fase-fase perkembangan janin di dalam Rahim dan setelah lahir
hingga mencapai usia lanjut (pikun). Firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ
تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ
مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى
الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا
ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ
يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ
شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ
اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ
[1] Desmita, Psikologi
Perkembangan, Bandung: Rosda Karya, 2007, hal.
19-31.
[2] Yusuf Qardhawi, Pendidikan dan Madrasah Hasan al-Banna, Jakarta: Bulan Bintang, 1994, hal. 135
[3] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, Bandung: Mizan, 1994,
hal. 162.
[4] M. Darwis
Hude, Emosi: Penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam
Al-Qur’an, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006, hal. 75.
[5] Dr. Maurice
Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Perancis dan pernah mengepalai klinik bedah
di Universitas Paris. Pernah ditunjuk menjadi dokter pribadi keluarga Raja
Faisal Arab Saudi dan Presiden Mesir Anwar Sadat. Ia mulai terkenal dengan
bukunya yang berjudul “La Bible, le Coran et la Science” atau Bibel, Al-Qur’an,
dan Ilmu Pengetahuan Modern pada tahun 1976. Disadur dari: https://republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/19/02/08/pjmul3313-maurice-bucaille-tersentuh-kebenaran-alquran.
Diakses tanggal 19 Februari 2021
[6] M. Darwis
Hude, Emosi: Penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam
Al-Qur’an, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006, hal. 78.
