Al-Imam An-Nawawi (w. 676 H) berkata:
قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّهُ يسحب لِلْمَأْمُومِ وَالْإِمَامِ أَنْ لَا يَقُومَا حَتَّى يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْإِقَامَةِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْمُصَنِّفُ وَالْجُمْهُورُ وَقَالَ صَاحِبُ الْحَاوِي فِي آخِرِ بَابِ الْأَذَانِ ينبغى لمن كان شيخا بطئ النَّهْضَةِ أَنْ يَقُومَ عِنْدَ قَوْلِهِ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ وَلِسَرِيعِ النَّهْضَةِ أَنْ يَقُومَ بَعْدَ الْفَرَاغِ لِيَسْتَوُوا قِيَامًا فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ
"Madzhab kami bahwa disunnahkan bagi makmum dan imam supaya tidak berdiri sampai muadzin selesai mengumandangkan iqamah. Begitulah yang disebutkan penyusun Al-Muhadzdzab dan jumhur ulama. Namun, penyusun Al-Hawi mengatakan di akhir bab Adzan bahwa hendaknya bagi orang yang sudah sepuh yang sulit bangkit supaya berdiri ketika ucapan 'Qad qamatish-shalah', dan bagi orang yang cepat bangkitnya supaya berdiri setelah selesai iqamah."
Referensi: Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab (III/255) cet. Darul Fikr
#FiqihSyafi'i
