Siapa pemerhati ulumul Qur’an yang tak mengenal Imam Ibnul Jazari? Terlebih peminat ilmu Tajwid dan Qira’at, rasanya tidak ada. Sosok yang dikenal sebagai pakar dalam kedua disiplin ilmu tersebut adalah ulama yang produktif dalam hal menulis, bahkan sedari usia muda. Tercatat bahwa beliau menulis buku pertamanya dalam bidang Tajwid pada usia 17/18 tahun, kitab itu diberi judul at-Tamhid fi ‘Ilmit-Tajwid.
Nah, ketika membahas tentang cara membaca huruf kho’, beliau menguraikan: “Apabila huruf kho’ diikuti oleh alif, hendaknya pembaca berhati-hati agar tidak membaca alif tersebut dengan tafkhim saat mentafkhimkan huruf kho’”. Pendapat yang beliau kuatkan adalah huruf alif akan selalu dibaca tarqiq, bagaimanapun kondisinya. Beliau menambahkan dengan mengutip perkataan salah seorang gurunya, Ibnu al-Jundi rahimahullah:
وتفخيم الألف بعد حروف الإستعلاء خطأ، وذلك نحو خائفين و غالبين و قال و طال و خاف و غاب ونحو ذلك
Adapun mentafkhimkan alif yang terletak setelah huruf isti’la adalah suatu kesalahan, seperti yang terdapat pada lafazh: khoifin, gholibin, qola, thola, khofa, ghoba dan yang semisalnya.
Lain hal akan kita dapati ketika saat membaca kitab beliau, an-Nasyr fil-Qira’atil ‘Asyr yang beliau tulis saat usianya hampir menginjak kepala lima. Beliau terlihat meluruskan pendapatnya terdahulu:
وأما الألف فالصحيح أنها لا توصف بترقيق ولا تفخيم ، بل بحسب ما يتقدمها فإنها تتبعه ترقيقا وتفخيما
“Adapun ‘alif maka yang tepat adalah ia tidak disifati dengan tarqiq maupun tafkhim, akan tetapi ia mengikuti sifat huruf sebelumnya baik tarqiq maupun tafkhim”
Beginilah akhlak para ulama, saat kebenaran datang, mereka akan menerimanya dengan lapang dada dan meninggalkan pendapatnya yang salah. Wallahu a’lam.
Faidah dari Ust. Afit Iqwanuddin, Lc.
