Al-Azhar Adalah Impian Sejak Dulu
Belajar di Al-Azhar adalah mimpiku sudah sejak lama. Waktu itu hati tertariknya inginnya ya ke sana aja, tak tau kenapa. Padahal belum tahu bagaimana cara untuk ke sana, belum tahu di sana belajarnya gimana, pelajaran yang akan dipelajari bagaimana, jurusan apa yang mau diambil dan seterusnyalah. Kira-kira begitu. Yang kutahu ya di sana tempatnya belajar ilmu Agama. Itulah yang aku tahu. Sampailah akhirnya tahun 2019 aku lulus SMA, di waktu-waktu itulah masa-masa penentuan berlangsung.
Ya, betul Aku lulusan SMA. Pendidikan yang telah kutempuh adalah SD-MTs-SMA. Itu semuanya sekolah negeri, bukan pesantren. Sedari dulu memang agak tertarik dengan pelajaran yang berkaitan dengan keagamaan. Dan juga, pelajaran agama di sekolah adalah mata pelajaran yang aku “jagoi”. Karena ketepatan juga aku mengikuti ekstrakurikuler semacam Rohani Islam (Rohis) kalau di Jabodetabek, jadi di sana sedikit banyak aku juga belajar agama. Remaja Mushalla Nurul ‘Ilmi namanya, disingkat Remush Nuri.
Lanjut cerita setelah SMA. Awalnya sempat terbesit ingin masuk jurusan Psikologi di kampus PTN dalam negeri, namun tidak begitu sreg di hati. Merasa tidak ada kecocokan aja, mungkin karena tidak begitu tertarik. Akhirnya ya aku tidak ikut tes. SNMPTN tidak ikut, SBMPTN juga tidak ikut. Begitu istilah ujian masuk kampus negeri waktu itu. Aku sih pengennya gap year. Ingin menghafalkan Al-Qur’an dan belajar bahasa Arab dulu, baru nanti cari jalan untuk bisa melanjutkan ke Al-Azhar, Kairo. Namun rencana itu kurang disetujui oleh orang tua.
Kuliah S1 di PTIQ Jakarta
Diberikanlah pandangan oleh orang tua dan keluarga serta diberikan opsi untuk kuliah di PTIQ Jakarta. Alhamdulillah setelah beberapa pertimbangan, kuputuskanlah bismillah berangkat ke PTIQ untuk tes dan alhamdulillah lulus. Di sini aku bertemu dengan salah seorang dosen, nama beliau Dr. KH. Muhsin Salim, SQ., MA., spesialisasi beliau dalam bidang Ilmu Qira’at dan Tajwid. Abah Muhsin begitu sapaan akrabnya.
Bertemu dengan beliau ini menjadikanku akhirnya tahu ke arah mana aku akan mendalami fan ilmu. Empat tahun selama menjadi mahasiswa PTIQ, alhamdulillah aku dipercaya menjadi sekretaris pribadi beliau. Aku mengetik dan menjadi editor mulai dari makalah, khutbah, dan juga buku-buku yang beliau tulis. Hampir tiap hari aku menemui materi-materi tajwid dan qira’at, khususnya pada tahun pertama aku di PTIQ. Lambat laun, rasa cinta pada ilmu ini tumbuh dan semakin menjadi-jadi. Juga di samping itu aku tinggal di pondok tahfizh Al-Qur’an yang diasuh oleh dosenku sendiri, Dr. KH. Abdur Rokhim Hasan, SQ., MA. mulai dari semester tiga hingga lulus. Alhamdulillah.
Belajar Bahasa Arab di Markaz Arabiyah
Aku tidak menafikan dan bahkan dengan penuh kesadaran diri memahami bahwa aku ini masih lemah di ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah wa ashabihi ajma’in. Untuk itu, selepas lulus kuliah S1 aku ingin belajar bahasa Arab dan juga sebagai persiapan mau masuk S2. Begitu niat awalku sebenarnya.
Berangkatlah aku dari Jakarta dan sampai tiba di Markaz Arabiyah, Pare sekitar pukul 01.30 dini hari. Aku istirahat di ruang transit, baru di pagi harinya aku check-in dan ditempatkan asrama Alydrus di bawah bimbingan guru yang cerdas, ganteng nan meneduhkan Ustadz Dzul Fahmi Ahsan, Lc.
Bulan pertama aku mengambil program Takhassush Awwal di bawah didikan wali kelas tercinta, Ustadzah Rusyda Khozinatul Asroriyah, S.Pd. Lanjut bulan kedua di program Takhassuh Tsani di bawah asuhan wali kelas termantab, Ustadzah Atiqoh Sa’idah, S.Pd. Bergulir ke bulan ketiga, di kelas I’dad Tsani di bawah didikan militer wali kelas ter-the best, Ustadzah Rena Rafidania, S.Pd. Dan di bulan keempat masuk kelas Panter Ushuluddin di bawah didikan ustadz muda gaul dan juga ketje abis, Ustadz Dzul Fahmi Ahsan, Lc. Semuanya berkesan dan memiliki keistimewaannya tersendiri.
Ustadzah Rusyda itu orangnya baik banget, sering ngasih jajan, bawa kopi dan lain-lain. Kalau Ustadzah Atiqoh ini agak beda dikit, ya tentunya baik juga, maksudku tapi kalau urusan mengajar dan main di kelas itu sangat out of the box wkwk. Sangat menantang begitu, argh begitulah pokoknya, lumayan menguras tenaga dan pikiran hahaha.
Nah, kalau Ustadzah Rena ini orangnya baik, ceria banget dan juga perhatian ke anak kelasnya hehe. Kelas kami, I’dad Tsani C di bawah didikan beliau dijuluki “didikan militer” wkwk. Mantaplah. Sewaktu di bawah didikan beliau inilah aku terpilih menjadi martabatul ula, hehe alhamdulillah. Dan kalau Ustadz Dzul, beliau itu sudah seperti abang kami sendiri, beliau senantiasa memberi kami waktu diskusi dan ngobrol, baik di sakan, kelas, maupun di luar kelas. Gaya mendidik beliau tidak menekan, lebih mengembalikan semuanya kepada kami, karena mungkin pikir beliau kami udah dewasa dan mampu berpikir mana yang baik dan buruk untuk diri kami sendiri. Luar biasalah pokoknya.
Terkhusus di kelas Takhassush Tsani, sangat bersyukur bisa diajar langsung oleh Ustadz Miqdar selaku muassis, tepatnya di maddah qira’ah. Keren dan mantap banget dah. Ingat betul ketika di kelas beliau pasti selalu membawa tongkat ajaibnya, hehe. Tongkat yang selalu siaga menghantam sesiapa yang tidak bisa menjawab atau yang melakukan kesalahan, hehe. Tapi ga sakit kok. Aku sudah pernah merasakannya wkwk.
Beda dengan di kelas Panter Ushuluddin, alhamdulillah di sana ketemu dan diajar langsung oleh Ustadz Trilaks yang juga muassis. Di bawah tangan dingin beliau, kami belajar ilmu Mantiq, maddah yang butuh konsentrasi tinggi. Ingat betul bahwa kalau siapa yang ketahuan menguap langsung kena iqob berdiri wkwk. Bayangkan, belajar mantiq di siang di hari, hissoh terakhir, alamak. Fun fact-nya orang yang pertama kali mendapat hukuman berdiri itu di kelas kami, tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang menulis tulisan yang saat ini Anda baca, hahaha. Maafkan ya Ustadz Trilaks, ngantuk banget soalnya wkwkw.
Aku berdoa untuk semua guruku di Markaz Arabiyah pada umumnya, dan kedua guruku yang mulia Ustadz Trilaks dan Ustadz Miqdar pada khususnya, semoga senantiasa dalam lindungan Allah Swt, dipanjangkan umurnya, dilancarkan segala urusan dan rezekinya, sukses selalu di semua perkara dunia dan akhirat, aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Mengikuti Tes Al-Azhar
Di suatu waktu, Ustadz Miqdar menyampaikan bagi sesiapa yang mau mendapatkan info kuliah di Mesir, silakan datang dan berkumpul di qoah pada hari sekian dan jam sekian. Aku pun hadir, yang pada awalnya hanya ingin cari-cari info saja dulu. Kebetulan itu kebanyakan bagi yang akan melanjutkan di jenjang S1. Tapi skenario Allah memang luar biasa. Setelah berdiskusi dan meminta pandangan dari orang tua dan juga guru-guru, bismillah diputuskan untuk lanjut mendaftar. Terlebih ada “orang baik” yang siap membantu dalam hal pendanaan, alhamdulillah. Doa dan impianku yang sudah lama itu, yaitu belajar ke Al-Azhar semakin dekat.
Kenapa Pengen ke Al-Azhar?
Di PTIQ, kami belajar ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, khususnya ilmu Tajwid, Qira’at, Rasm Utsmani, Nagham, dan ada juga tahfizhnya. Dari sinilah aku tertarik untuk memperdalam dispilin ilmu itu. Ada ungkapan yang pernah dilontarkan oleh Syaikh Rusydi al-Azhari, “Belum sempurna bacaan Al-Qur’an seseorang kalau ia belum talaqqi kepada para qurra’ Mesir. Karena Al-Qur’an diturunkan di Makkah-Madinah, ditulis di Turki, dan dibaca di Mesir.” Kira-kira begitu.
Dan, kalau mau belajar tajwid dan qira’at, ya memang di Mesir-lah tempat terbaiknya. Belajar kepada ulama Mesir. Yang mengajar Qira’at di awal-awal adanya pembelajaran qira’at di Arab Saudi itu adalah para ulama Mesir. Sebutlah Syaikh Abdul Fattah al-Qadhi dan Syaikh Salim Muhaisin contohnya. Mereka diminta untuk mengajar Qira’at secara khususnya di Arab Saudi. Artinya apa? Ulama Saudi pun mengakui kredibilitas Ulama Mesir dalam hal Qira’at.
Karena itulah aku mau ke Mesir, mau memperdalam pondasi ilmu qira’at yang telah aku bangun di PTIQ. Aku ingin menjadi bagian dari mereka yang sedikit, mereka membumikan Al-Qur’an, khususnya dalam kajian ilmu Qira’at di negeri Ibu Pertiwi. Alhamdulillah bersyukur sekali, Markaz Arabiyah menjadi washilah yang mengantarkanku untuk lebih dekat dan semakin dekat dengan mimpi dan harapan itu. Sukses selalu, Markaz Arabiyah!
Soekarno Hatta Airport, 10 Oktober 2024
Muhammad Misbah
*Ditulis dalam event El-Ebizar Menulis bareng teman-teman Santri Markaz Arabiyah Kloter 2 Go To Universitas Al-Azhar, Kairo.
